Selling naked Put Options can be very rewarding on this market situation. However, you really have to know the stock and really want to own it when you were assigned.
I have written the Sell Put Options methodology before, and the following video is one of my trade at AAPL.
When you Sell PUT Options, you need to ensure that your break-event point has strong support. During this volatile market, premium is rich and your risk is compensated. Your decision to pickup the strike price is important and by deducting with the premium, you will get your break-event point.
What is good about this strategy is that your win ratio is relatively high. You will win on 3 out of 4 probabilities. When the stock went up, stayed, and went down (a little bit), your trade will win. You will loose if the stock sold-off and went through your support (break-event point). But, as you believe on the stock and you want to buy it, think that you get the stock on discount.
The margin of Selling Naked Put is also friendlier than Covered Call strategy. Brokers only keep 20% from the strike price. Since it is only one leg options strategy, your commission is lower and less slippage. So, why searching for other complex strategy? Just search and scan stock that have good positive Relative Strength Index and fundamental and get the monthly income strategy.
Enjoy the video...
Adobe Flash Player not installed or older than 9.0.115!
Last Updated on Sunday, 01 February 2009 17:32
Covered PUT Options Strategy
Written by kxdhar
Friday, 12 September 2008 07:22
Salah satu member dari Forum menanyakan apa perbedaan strategi Covered CaLL dengan Covered PUT? Dari namanya sih sama, maka itu mempunyai logika yang sama pula.
Covered Call adalah strategi Neutral to Bullish, sedangkan Covered Put adalah strategi Neutral to Bearish. Jadi, Covered Put adalah kebalikan dari Covered Call. Berikut ini gambaran dari pemasangan strateginya:
Covered Call -> Buy Stock - Sell Call
Covered Put -> Shorting Stock - Sell Put
Apabila Covered Call membeli saham sebelum kita SELL CALL, maka Covered Put kita harus SHORTING saham sebelum SELL PUT. Shorting saham mempunyai pengertian kita MENJUAL saham dahulu, meskipun kita tidak mempunyai saham. Cukup menarik bukan?
Dengan Covered PUT, seseorang mengharapkan saham untuk turun dan dia bisa mendapatkan 2 keuntungan. Faham dari SELL HIGH - BUY LOW ini akan mendapatkan PREMI dari SELL PUT (apabila saham tidak mengenai strike price dari Short posisi) dan dari turunnya harga saham (dari posisi shorting saham). Apabila ternyata saham turun kebawah secara cepat (Sell off) dan mengenai strike price dari posisi SELL PUT, resiko assignment akan di cover oleh posisi Shorting saham, sehingga kita tidak usah membeli saham tersebut.
Strategi ini bukannya untuk pemula, karena apabila harga saham rallying dan naik, LOSS bisa UNLIMITED. Maka itu, hati-hati dan coba mengetahui strategi dengan baik sebelum me-implementasikannya.
Covered Call Srategy - part 4
Written by kxdhar
Sunday, 07 September 2008 02:57
Covered Call Strategy dilakukan dengan SELL CALL dengan menggunakan saham sebagai jaminan Underlying Assets apabila posisi Short di “exercise” yang disebabkan harga saham naik melampaui harga strike. Apabila kita memasang Covered Call Strategy, kemungkinan di Exercise adalah suatu hal yang biasa. Kita tidak boleh memikirkan bahwa Exercise adalah suatu hal yang buruk.
Tetapi, ada satu cara supaya saham yang kita punyai TIDAK di exercise. Yaitu dengan menggunakan REPAIR STRATEGY – ROLL UP. ROLL UP adalah strategi yang digunakan pada Covered Call apabila saham naik dan mendekati Strike Price. Apabila kita yakin saham dalam keadaan BULLISH dan kita tidak ingin saham unggulan kita di exercise, kita dapat melakukan Roll Up.
Berikut ini adalah persyaratan untuk melakukan ROLL UP:
Covered Call Strategy kelihatannya suatu strategi yang sangat mudah dan simple. Tetapi apabila kita telusuri lebih dalam, strategi PEMILIHAN STRIKE PRICE AMATLAH PENTING. Karena tentunya hal ini akan mempengaruhi RETURN dan RISK PROFILE dari strategi secara keseluruhan.
Kali ini kita akan membahas posisi STRIKE pada Covered Call Strategy. Seperti kita ketahui ada tiga posisi strike price yang dapat kita pilih yaitu:
ITM (In The Money) – mempunyai nilai intrinsic dan extrinsic ATM (At The Money) – mempunyai nilai extrinsic (kadang2 ada sedikit nilai intrinsic nya). OTM (Out of The Money) – Semuanya berupa Time Value Money.
Pemilihan STRIKE PRICE untuk Covered Call Strategy sangatlah penting didalam melihat asumsi dari movement SAHAM yang akan kita BELI. Seorang Investor harus mempunyai TREND Assumption pada saham tsb, apakah akan Neutral, Decreasing Trend, ataukah Increasing Trend ?
Illustrasi Strategi dan Perhitungan ROI (Return On Investment) telah kita bahas pada bagian I (Part I), dan sekarang Saya akan membahas cara sudut pandang yang sederhana seorang Investor melakukan strategi ini…..
Bagi Investor “Buy and Hold” stock, saham dapat digunakan sebagai layaknya mempunyai RUKO atau PROPERTI. Apabila kita mempunyai RUKO, kita akan mengharapkan UANG SEWA dan kenaikan dari HARGA property tsb tiap tahunnya. Dengan mempunyai saham, kita mengharapkan:
1. Kenaikan harga Saham sesuai dengan Earning Perusahaan. 2. Menerima Dividend tiap Quarter atau tiap Tahun. 3. Saham dapat “DISEWAKAN” kepada pihak lainnya.
Kata “DISEWAKAN” ini tentunya membuat beberapa orang bertanya-tanya. Bagaimana mungkin saham disewakan kepada Orang Lain ?